the untold one…
“maafin saya ya…. “
satu kalimat yang sampai sekarang belum saya utarakan. satu kalimat yang sudah seharusnya saya ucapkan sedari dulu. satu kalimat yang saya tahu tidak akan merubah apapun. satu kalimat yang teramat ringkas, namun kita berdua tahu pasti banyak makna terkandung di dalamnya dan karena itulah saya belum mengutarakannya. ya… terlalu banyak makna. terlalu banyak hal penting. terlalu banyak perasaan. terlalu banyak drama. mengutarakannya secara langsung akan terasa sangat sakit dan perih. dan untuk itu saya tidak sanggup.
saya telah memutuskan untuk melangkah. menjalani sebuah jalan yang saya pilih sendiri karena saya rasa itulah yang terbaik. saya tahu teramat banyak yang saya korbankan. salah satu yang paling mendasar adalah keberadaan seorang superhuman seperti kamu. seorang dengan kapabilitas super. kamu memang segalanya. seorang teman, sahabat, kakak, rekan kerja, ayah, dan tentunya kekasih dengan segenap cinta yang utuh. saya tahu, saya mungkin tidak akan menemukan lagi orang seperti kamu di dunia ini. untuk itu saya berusaha keras untuk tidak menoleh ke belakang dan membuat perbandingan.
saya akan menyimpan kamu dalam sebuah kotak sederhana. sehingga dapat dengan mudah saya buka kembali. entah dengan apa. entah kapan. entah bagaimana. entah sebagai apa. kamu terlalu berharga untuk dibuang. kita terlalu berharga untuk disingkirkan begitu saja.
saya mencintai kamu. raihlah cita-citamu. kejar apa yang ingin engkau raih. jadilah orang yang terbaik. jadilah sebesar yang kau impikan. semoga kita dapat bertemu kembali dikemudian hari. entah dengan apa. entah kapan. entah bagaimana. entah sebagai apa.
maafin saya ya… untuk semuanya….